Model Penilai Kinerja Karyawan dalam Bisnis

Berikut ini adalah Model Penilai Kinerja Karyawan dalan Bisnis:

1. Pihak-pihak yang melakukan penilaian kinerja karyawan

Pihak-pihak yang melakukan penilaian kinerja karyawan dapat dibedakan dalam dua kelompok.

1)   Penilai informal

Penilai informal adalah penilaian yang melakukan penilaian mengenai kualitas kerja dan pelayanan yang diberikan oleh tiap-tiap karyawan baik atau buruk, penilai ini yaitu masyarakat, konsumen atau rekanan yang diharapkan dapat bersikap objektif.

2)   Penilai formal

Penilai formal adalah seseorang atau komite yang mempunyai wewenang formal menilai bawahannya di dalam ataupun di luar pekerjaan dan berhak menetapkan kebijaksanaan selanjutnya terhadap setiap karyawan. Penilai formal dibedakan atas dua macam penilaian, yaitu sebagai berikut.

a) Penilai individual, yaitu atasan langsung yang secara individual menilai perilaku dan kinerja karyawan yang menjadi bawahannya. Hasil penilaian kemudian diajukan kepada atasan langsung penilai untuk disahkan atau ditandatangani.

b) Penilai kolektif, yaitu tim atau kolektif secara bersama-sama melakukan penilaian kinerja karyawan dan menetapkan kebijaksanaan selanjutnya terhadap karyawan tersebut.

Kunjungi Juga Spesifikasiproduk.com untuk mengetahui Review Produk-produk Terlaris di Pasaran Indonesia saat ini, agar tidak ketinggalan untuk mendapatkan diskon harga besar-besaran untuk setiap produk yang ditawarkan. Serta Bisnis dan berita Viral terbaru.

2. Syarat-syarat penilai kinerja karyawan

Suwatno (2003) menyatakan bahwa syarat-syarat penilai, yaitu:

1)   jujur, adil, objektif, berpengetahuan yang mendalam tentang unsurunsur yang akan dinilai supaya penilaiannya sesuai dengan fakta yang ada;

2)   didasarkan atas benar atau salah, bukan atas suka atau tidak suka;

3)   mengetahui secara jelas uraian pekerjaan setiap karyawan yang akan dinilainya;

4)   mempunyai kewenangan (authority) formal agar dapat melaksanakan tugasnya dengan baik;

5)   beragama supaya penilaiannya jujur dan adil;

6)   memiliki tingkat inteligensi yang tinggi;

7)   mempunyai pengetahuan yang luas dan mampu berpikir analitis.

3. Aspek-aspek yang dinilai dalam penilaian kinerja

Sedarmayanti (2008) mengemukakan bahwa penilaian pelaksanaan pekerjaan/prestasi kerja dapat dibedakan menjadi tujuh aspek untuk mengukur penilaian kinerja, yaitu sebagai berikut. 27

1)   Prestasi kerja; penilai menilai hasil kerja, baik kualitas maupun kuantitas yang dapat dihasilkan oleh karyawan mengenai uraian pekerjaannya.

2)   Tanggung jawab; kejadian karyawan dalam mempertanggungjawabkan kebijaksanaannya, pekerjaan dan hasil kerjanya, sarana dan prasarana yang digunakannya, perilaku serta hasil kerja dari bawahannya.

3)   Ketaatan; karyawan menaati segala peraturan yang ditetapkan oleh sebuah perusahaan atau organisasi.

4)   Kejujuran; kejujuran dalam melaksanakan tugas-tugasnya, memenuhi perjanjian, baik untuk dirinya sendiri maupun terhadap orang lain, seperti kepada para bawahannya.

5)   Kerja sama; berpartisipasi dan bekerja sama dengan karyawan lain sehingga hasil pekerjaan akan lebih baik.

6)   Prakarsa (inisiatif); kemampuan berpikir yang rasional dan berdasarkan inisiatif sendiri untuk menganalisis, menilai, menciptakan, memberikan alasan, mendapat kesimpulan, dan membuat keputusan.

7)         Kepemimpinan; kemampuan untuk memimpin, memengaruhi, mempunyai pribadi yang kuat, dihormati, berwibawa, dan dapat memotivasi orang lain atau bawahannya untuk bekerja secara efektif. Ketujuh aspek tersebut digunakan penulis dalam melakukan penelitian sebagai indikator dari penilaian kinerja (variabel X). Sumber: (Studi Kelayakan Bisnis – H. Dadang Husen Sobana, M.Ag.)